Tampilkan postingan dengan label Buletin. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buletin. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Mei 2013

Budaya Afwan


Suasana sore itu tak jauh berbeda dengan sore-sore sebelumnya. Beberapa kelompok mahasiswa asik berdiskusi di sudut-sudut bangunan berbentuk segi delapan itu. Penuh semangat mereka mengeluarkan usulan dan argumen-argumen untuk meyakinkan anggota syuro yang lain agar mengikuti apa yang dia usulakan. Pemandangan agak berbeda terlihat di salah satu sudut ruangan sebelah utara, sesosok lelaki muda duduk sendirian memainkan spidol hitam ditangan kanannya dengan raut muka agak cemas berulang kali melirik ke arah tempat parkir motor menanti kedatangan teman-temannya.
Beberapa saat kemudian, satu persatu teman yang dinanti pun datang. Memasang setting wajah tak berdosa lalu mengucapkan “Afwan telat”, dua kata ajaib yang terucap setelah salam, menganggap kata itu sudah cukup menjadi tebusan atas keterlambatannya. Beberapa sms yang baru masuk pun berisi 2 kata ajaib itu diiringi dengan keterangan waktu di belakangnya, 10 menit lah, 15 menit, bahkan ada yang tega menulis 30 menit. Mereka yang baru tiba itu duduk manis dengan masih memasang tampang tak berdosa seolah-olah tak ada kesalahan apa pun yang telah diperbuatnya. Sedangkan lelaki yang dari tadi menunggu berusaha untuk tersenyum semanis mungkin dan berusaha menghapus kekesalannya.
Syuro pun dimulai. Ba’da salam, syukur, shalawat dan basmalah, pemimpin syuro membacakan 1 surat dari Kitabullah, Surat Al-‘Ashr 1-3:
Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, dan saling berpesan dengan kebenaran, dan saling berpesan dengan kesabaran. (QS Al-‘Ashr:1-3)
Tepat sekali menusuk relung hati peserta syuro, mereka saling berpandangan dan tersenyum, mereka mengerti mengapa surat itu yang dipilih oleh pemimpin syuro tuk mengawali syuro sore itu. Lelaki yang duduk disebelah papan tulis putih itu pun menganggap tak perlu lagi menjelaskan makna Firman Allah yang baru saja dibacakannya. Dia tahu teman-temannya sudah cukup cerdas tuk paham akan makna yang terkandung didalamnya.
Syuro dilanjutkan, masing-masing peserta dipersilahkan untuk melaporkan perkembangan amanah yang dipikulnya. Sudah sesuai rencanakah atau malah lebih cepat dari rencana awal.
“Gimana akh?” tanya lelaki pemimpin syuro.” Proposalnya sudah disebar ke sponsor?”
“Afwan akh” kata itu lagi yang terucap. “ Ane sudah hubungi staff ane tuk membuat  desainnya, tapi katanya dia masih menunggu format proposalnya dari sekreteris kegiatan dan baru kemarin formatnya diserahkan ke staff ane”
Raut muka kekecewaan tergores di wajah pemimpin syuro. Perlahan raut kekecewaan itu berubah menjadi kekhawatiran akan acara besar yang akan diselenggarakan oleh lembaganya. Apakah akan sukses atau hanya berjalan apa adanya. Atau bahkan gagal total. Ketakutan itu terus membayangi pikirannya. Bahkan sampai muncul kekhawatiran akan kelanjutan organisasinya kelak jika para kadernya seperti ini.
Mungkin kebanyakan dari kita sering mengalami kejadian seperti tadi, kedatangan yang telat, penyelesaiaan akan tugas yang terabaikan, atau lainnya, yang menyebabkan kata “afwan” seperti sebilah pedang yang mengoyak rencana-rencana besar kita. Atau bahkan mungkin kitalah pelaku utama pelontar kata “afwan” tersebut. Memang sih sangat ringan dan terlewat mudah kita mengucapkan kata itu tetapi pernahkah kita memikirkan perasaan orang yang telah lama menanti kedatangan kita dengan cemas, perasaan seseorang yang begitu mempercayakan suatu amanah kepada kita lalu kita mentelantarkannya, atau pernahkah kita mempikirkan rencana besar apa yang harus gagal karena anggapan remeh kita terhadap waktu maupun amanah kecil yang diberikan kepada kita.
Sebagian besar dari penderita “syndrome afwan” tidak pernah berfikir sejauh itu, mereka terlalu berkosentrasi untuk mempertahankan diri dari pertanyaan-pertanyaan yang nantinya akan muncul akibat dari ketidaksadaran mereka akan pentingnya tugas dan amanah yang diberikan. Penderita syndrome afwan akan sibuk mencari jutaan alasan pembenaran akan kesalahan-kesalahannya. Dan si penanya pun akan bosan mendengar alasan yang sudah berulang kali ia dengar.

Roni Eka Arrohman

Jumat, 12 April 2013

Marahalah Dakwah



Marhalah dakwah terdiri dari tabligh, ta’lim, takwin, dan tanfidz. Pada setiap tahapan ini terdapat amalud dakwah (aktivitas dakwah) dan ahdafud dakwah (tujuan dakwah). Pada marhalah tabligh (penyampaian umum) dan ta’lim (pengajaran) aktivitas dakwahnya adalah merubah dari kebodohan kepada ma’rifah (pengenalan) sedangkan tujuannya adalah menyampaikan ilmu dan memperbaiki ilmu. Marhalah takwin mempunyai aktivitas merubah ma’rifah kepada fikrah dan merubah fikrah kepada harakah, sedangkan tujuan adalah memperbaiki fikrah dan melatih amal. Pada marhalah tandzim, aktivitas dakwahnya adalah merubah harakah kepada hasil sedangkan tujuannya adalah menyatukan shaf, mengkoordinasikan amal dan pengawasan kegiatan. Pada marhalah tanfidz aktivitas dakwah adalah merubah hasil kepada tujuan (mardhatillah) adapun tujuannya adalah mobilisasi amal.

Marhalah tabligh dan ta’lim

Amal dakwah pada marhalah tabligh dan ta’lim adalah merubah jahalah (jahiliyah/bodoh) kepada ma’rifah. Marhalah ini adalah marhalah yang terbuka dengan penyampaian terbuka dan bahan yang sifatnya umum. Mereka yang hadir dalam marhalah ini adalah mereka yang berada pada level umum. Contoh tabligh adalah aktivitas dakwah di masjid (ceramah, khutbah, tazkirah), di kampus (seminar, kuliah, daurah) sedangkan ta’lim adalah marhalah setelah tabligh. Mereka yang berminat dengan dakwah dan Islam diajak kepada marhalah ta’lim. Bentuk pengajian umum dapat dikatakan marhalah ta’lim dimana kita mendapatkan ilmu melalui pengajaran yang dijadwal dan terlaksana secara tertib. Usaha-usaha dakwah tabligh dan ta’lim ini dengan sifat yang umum, peserta umum, dan tujuan umum, maka aktivitas ini bersifat merubah ketidaktahuan kepada pengetahuan (ma’rifah). Di dalam menjalankan amal dakwah demikian banyak aktivitas yang dilakukan seperti media, brosur, kaset, video, games, training, rihlah, dan sebagainya.

Seiring dengan amal dakwah yang dilakukan di marhalah ini maka tujuan dan dakwahnya adalah memberi ilmu dan memperbaiki ilmu. Bagi peserta yang tidak mempunyai ilmu maka dengan keikutsertaannya di dalam marhalah tabligh dan ta’lim ini akan menambah ilmu sedangkan bagi yang sudah berilmu akan mendapatkan perbaikan ilmunya atau menambah ilmu. Diskusi dan pembahasan adalah bagian dari aktivitas marhalah ini sehingga mencapai kebutuhan akal atau kognitif individu seperti ilmu.

Marhalah takwin

Pribadi yang sudah menyadari pentingnya ilmu sehingga dirinya selalu hadir dalam pengajian yang terus menerus dan tertib disamping juga mulai tumbuh semangat beramal pada dirinya, maka mereka ditingkatkan kepada marhalah takwin.

Marhalah takwin dimulai dengan merubah ma’rifah yang telah dicapai pada marhalah sebelumnya kepada fikrah. Ma’rifah hanya mengenal saja tetapi belum mempunyai kesadaran dan pemahaman yang baik. Kesadaran dan pemahaman yang dapat membentuk amal adalah fikrah. Banyak muslim yang mempunyai ilmu tetapi tidak ada fikrah sehingga amal dan usahanya tidak jelas dan tidak teratur, begitupun dengan sikap dan tingkah lakunya terkadang menyimpang, ia pun mudah terpengaruh oleh ghazwul fikri sehingga muncul beberapa pribadi yang tidak komitmen dan tidak konsisten. Usaha merubah ma’rifah kepada fikrah dilakukan dengan membedah realitas yang berlaku dan merujuk kepada nilai Islam dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Aktivitas berikutnya adalah merubah fikrah kepada harakah. Fikrah tidak cukup dimiliki seseorang apabila tidak diamalkan dan diwujudkan dalam harakah. Fikrah harus dibuktikan di dalam amalnya. Merubah fikrah kepada harakah adalah melatih peserta ke dalam amal (pribadi) dan membimbingnya untuk merasakan amal harakah yang dilakukan secara terpadu bersama-sama atau berkelompok atau berorganisasi. Jadi selain diberi peluang kepada peserta untuk beramal juga diberi latihan-latihan yang dapat merasakan realitas dan aplikasi fikrah yang sebenarnya dalam harakah. Misalnya kita hanya memahami bahwa dakwah itu wajib dan orang yang berdakwah maka dia akan dibantu oleh Allah, hanya dengan dakwah Islam bisa tegak. Fikrah demikian perlu dirasakan dengan amal di dalam harakah. Latihan yang diberikan dan juga peluang yang disediakan akan mengarahkan peserta kepada harakah dengan kaidah-kaidah yang telah dicontohkan Nabi SAW seperti pelaksanaan tarbiyah para sahabat di rumah Arqom bin Abi Arqom.

#KaReNa KiTa KeLuArGa

Selasa, 02 April 2013

Pacaran Islami... Adakah???



Dalam Islam memang tidak dikenal proses pacaran seperti apa yang dipahami kebanyakan remaja islam sekarang. Proses pacaran seringkali lebih banyak membawa mudharat daripada manfaat, bahkan seringkali membawa kepada perbuatan yang dilarang dalam agama,. Melihat kecenderungan aktifitas pasangan muda yang berpacaran, sesungguhnya sangat sulit untuk mengatakan bahwa pacaran itu adalah media untuk saling mencinta satu sama lain. Sebab sebuah cinta sejati tidak berbentuk sebuah perkenalan singkat, misalnya dengan bertemu di suatu kesempatan tertentu lalu saling bertelepon, tukar menukar SMS, chatting dan diteruskan dengan janji bertemu langsung.

Semua bentuk aktifitas itu cenderung bukanlah sebuah aktifitas cinta, sebab yang terjadi adalah kencan dan bersenang-senang. Sama sekali tidak ada ikatan formal yang resmi dan diakui. Juga tidak ada ikatan tanggung-jawab antara mereka. Bahkan tidak ada ketentuan tentang kesetiaan dan seterusnya.

Padahal cinta itu memiliki, tanggung-jawab, ikatan syah dan sebuah harga kesetiaan. Dalam format pacaran, semua instrumen itu tidak terdapat, sehingga jelas sekali bahwa pacaran itu sangat berbeda dengan cinta.

Pacaran Bukanlah Penjajakan/Perkenalan

Bahkan kalau pun pacaran itu dianggap sebagai sarana untuk saling melakukan penjajagan, perkenalan atau mencari titik temu antara kedua calon suami istri, bukanlah anggapan yang benar. Sebab penjajagan itu tidak adil dan kurang memberikan gambaran sesungguhnya dari data yang diperlukan dalam sebuah persiapan pernikahan.

Dalam format mencari pasangan hidup, Islam telah memberikan panduan yang jelas tentang apa saja yang perlu diperhitungkan. Misalnya sabda Rasulullah SAW tentang 4 kriteria yang terkenal itu.

Dari Abi Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW berdabda,"Wanita itu dinikahi karena 4 hal: [1] hartanya, [2] keturunannya, [3] kecantikannya dan [4] agamanya. Maka perhatikanlah agamanya kamu akan selamat." (HR. Bukhari Kitabun Nikah Bab Al-Akfa' fiddin nomor 4700, Muslim Kitabur-Radha' Bab Istihbabu Nikah zatid-diin nomor 2661)

Selain empat kriteria itu, Islam membenarkan bila ketika seorang memilih pasangan hidup untuk mengetahui hal-hal yang tersembunyi yang tidak mungkin diceritakan langsung oleh yang bersangkutan. Maka dalam masalah ini, peran orang tua atau pihak keluarga menjadi sangat penting.

Inilah proses yang dikenal dalam Islam sebaga ta'aruf. Jauh lebih bermanfaat dan objektif ketimbang kencan berduaan. Sebab kecenderungan pasangan yang sedang kencan adalah menampilkan sisi-sisi terbaiknya saja. Terbukti dengan mereka mengenakan pakaian yang terbaik, bermake-up, berparfum dan mencari tempat-tempat yang indah dalam kencan. Padahal nantinya dalam berumah tangga tidak lagi demikian kondisinya.

Istri tidak selalu dalam kondisi bermake-up, tidak setiap saat berbusana terbaik dan juga lebih sering bertemua dengan suaminya dalam keadaan tanpa parfum. Bahkan rumah yang mereka tempati itu bukanlah tempat-tempat indah mereka dulu kunjungi sebelumnya. Setelah menikah mereka akan menjalani hari-hari biasa yang kondisinya jauh dari suasana romantis saat pacaran.

Maka kesan indah saat pacaran itu tidak akan ada terus menerus di dalam kehidupan sehari-hari mereka. Dengan demikian, pacaran bukanlah sebuah penjajakan yang jujur, sebaliknya sebuah penyesatan dan pengelabuhan.

Dan tidak heran kita dapati pasangan yang cukup lama berpacaran, namun segera mengurus perceraian belum lama setelah pernikahan terjadi. Padahal mereka pacaran bertahun-tahun dan membina rumah tangga dalam hitungan hari. Pacaran bukanlah perkenalan melainkan ajang kencan saja.

Etika Ta'aruf
Dalam melakukan penjajagan yang syar`i, ada beberapa ketentuan yang
harus dipatuhi antara lain:

Tidak Berduaan (Khalwat)
Khalwat adalah bersendirian dengan seorang perempuan lain (ajnabiyah).
Yang dimaksud perempuan lain, yaitu: bukan isteri, bukan salah satu
kerabat yang haram dikawin untuk selama-lamanya, seperti ibu, saudara,
bibi dan sebagainya.

Ini bukan berarti menghilangkan kepercayaan kedua belah pihak atau salah satunya, tetapi demi menjaga kedua insan tersebut dari perasaan-perasaan yang tidak baik yang biasa bergelora dalam hati ketika bertemunya dua jenis itu, tanpa ada orang ketiganya. Dalam hal ini Rasulullah bersabda sebagai berikut:

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak bersama mahramnya, karena yang ketiganya ialah syaitan." (Riwayat Ahmad)

"Jangan sekali-kali salah seorang di antara kamu menyendiri dengan seorang perempuan, kecuali bersama mahramnya."

Tidak Melihat Jenis Lain dengan Bersyahwat

Di antara sesuatu yang diharamkan Islam dalam hubungannya dengan masalah gharizah, yaitu pandangan seorang laki-laki kepada perempuan dan seorang perempuan memandang laki-laki. Mata adalah kuncinya hati, dan pandangan adalah jalan yang membawa fitnah dan sampai kepada perbuatan zina.

Katakanlah kepada orang-orang mu'min laki-laki, "Hendaklah mereka itu
menundukkan sebagian pandangannya dan menjaga kemaluannya" (an-Nur: 30-31)

Menundukkan Pandangan

Yang dimaksud menundukkan pandangan itu bukan berarti memejamkan mata dan menundukkan kepala ke tanah. Bukan ini yang dimaksud dan ini satu hal yang tidak mungkin. Hal ini sama dengan menundukkan suara seperti yang disebutkan dalam al-Quran dan tundukkanlah sebagian suaramu (Luqman: 19).

Di sini tidak berarti kita harus membungkam mulut sehingga tidak berbicara. Tetapi apa yang dimaksud menundukkan pandangan, yaitu: menjaga pandangan, tidak dilepaskan begitu saja tanpa kendali sehingga dapat menelan perempuan-perempuan atau laki-laki yang beraksi.

Pandangan yang terpelihara, apabila memandang kepada jenis lain tidak mengamat-amati kecantikannya dan tidak lama menoleh kepadanya serta tidak melekatkan pandangannya kepada yang dilihatnya itu.

Oleh karena itu pesan Rasulullah kepada Ali r.a:

"Hai Ali! Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan
lainnya. Kamu hanya boleh pada pandangan pertama, adapun yang
berikutnya tidak boleh." (Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tarmizi)

Rasulullah s.a.w. menganggap pandangan liar dan menjurus kepada lain jenis, sebagai suatu perbuatan zina mata. Sabda beliau: "Dua mata itu bisa berzina, dan zinanya ialah melihat." (Riwayat Bukhari)

Hindari Berhias Yang Berlebihan (Tabarruj)
Tabarruj ini mempunyai bentuk dan corak yang bermacam-macam yang sudah dikenal oleh orang-orang banyak sejak zaman dahulu sampai sekarang. Ahli-ahli tafsir dalam menafsirkan ayat yang mengatakan:

"Dan tinggallah kamu (hai isteri-isteri Nabi) di rumah-rumah kamu dan jangan kamu menampak-nampakkan perhiasanmu seperti orang jahiliah dahulu." (QS Ahzab: 33)

Dalam Teknisnya, tidak harus selalu dengan langkah formal, resmi atau rotokoler. Bisa juga dengan cara yang tersamar yang tidak bisa dengan mudah ditafsirkan dengan mudah oleh pihak wanita sebagai bentuk penjajagan. Sebab bila sejak awal seorang wanita sadar bahwa dirinya sedang dijajagi, bisa jadi dia malah nervous, salah tingkah atau mungkin malah bertindak yang tidak-tidak. Maka bisa saja dilakukan secara pergaulan yang alami dan normal.

Selain itu bisa juga menggunakan utusan orang yang bisa dipercaya. Dan yang lebih utama adalah utusan yang berfungsi sekaligus sebagai konselor dalam urusan pernikahan. Sosoknya adalah orang yang sudah berpengalaman mendalam dalam urusan keluarga, sehingga apa yang diinformasikannya bukan semta-mata bahan mentah, melainkan dilengkapi dengan analisa yang sudah siap dijadikan bahan pertimbangan oleh anda.

Jadi, sekali lagi tidak ada PDKT yang islami terlebih pacaran yang Islami, untuk itu menjaga kesucian diri dengan segera menikah, tetapi apakah kita tidak boleh menyintai? Boleh-boleh saja karena cinta tidak bisa di larang datangnya di hati kita dan yan terpenting adalah mengelola hati agar cinta itu tidak ternoda dengan pacaran, Okey.....lalu bagaimana jika ada Myqers yang berta'aruf langsung via chat, Pripat Message, atau Email untuk menjalin hubungan serius? Nah inilah yang sekarang sedang marak di myquran.org.semoga ALLAH memberikan hidayah-Nya kepada kita semua. Amin

oleh : Ahmad Muhammad Haddad Assyarkhan (Adi Supriadi)
                                              #KaReNa KiTa KeLuArGa

Kamis, 28 Maret 2013

Enam Prinsip Pendidikan Karakter Islami



Karakter merupakan bagian tak terpisahkan dari individu. Erma Pawitasari, Kandidat Doktor Pendidikan Islam UIKA Bogor seperti yang dilansir insistent.com menerangkan bahwa karakter identik dengan akhlaq, yakni kecenderungan jiwa untuk bersikap/bertindak secara otomatis. Karakter yang sesuai dengan ajaran Islam disebut akhlaqul karimah atau akhlaq mulia (Mohamed Ahmed Sherif, Ghazali’s Theory of Virtue, 1975). Untuk meraih karakter ini, ada dua jalan yang bisa dilakukan. Pertama, bawaan lahir sebagai karunia dari Allah SWT. Contoh dari kategori ini ialah akhlak para nabi. Kedua, hasil usaha melalui pendidikan dan penggemblengan jiwa (SM Ziauddin Alavi, Muslim Educational Thought in The Middle Ages, 1988).

            Untuk menciptakan generasi yang memiliki karakter akhlaqul karimah, ada enam prinsip yang menjadi parameter pendidikan karakter yang baik. Keenam prinsip tersebut antara lain:

1. Menjadikan Allah Sebagai Tujuan

            Berbeda dengan masyarakat sekuler yang mengimani “ide ketuhanan”, umat Islam mengimani Allah sebagai Tuhan yang wujud, sehingga ketaatan kepadaNya menjadi mutlak. Masyarakat sekuler tidak ambil pusing apakah yang diimani benar-benar wujud atau sekedar khayalan (Muhammad Ismail, Bunga Rampai Pemikiran Islam, 1993). Ide tersebut diimani karena memberikan pengaruh baik bagi manusia. Meski demikian, konsep tersebut tidak mampu menjelaskan keajaiban yang dialami Nabi Ibrahim ketika menerima wahyu untuk menyembelih putranya.

Islam, disisi lain, mengajarkan agama sebagai penuntun dunia menuju keridhaan Allah. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku.”[QS. al-Dzaariyaat 56]. Untuk mencapai keridhaan Allah inilah, manusia wajib menghiasi diri dengan akhlak mulia (Sherif, 1975).

2. Memperhatikan Perkembangan Akal Rasional

            Akal merupakan modal utama untuk mencapai iman dan keridhaan Allah. Mustahil bagi manusia untuk meraih karakter yang mulia tanpa didasari pemahaman atas perilaku-perilaku yang ada dalam kehidupannya. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tariq ayat 5 (yang artinya): Maka hendaklah manusia memperhatikan (sehingga memikirkan konsekuensinya) dari apakah dia diciptakan?

Pada awal pendidikan, anak-anak memerlukan doktrinasi tentang perilaku yang baik, maupun yang buruk.  Metode ini dipilih karena mereka belum mampu memahami alasan pelarangan atau perintah tesebut. Sejalan dengan perkembangan kognitif mereka, pendidikan karakter perlu memperhatikan alasan yang rasional. Rasulullah Saw sering melakukan dialog dengan para sahabatnya dalam rangka mengasah kemampuan akal mereka. Salah satunya tergambar dalam hadist berikut: “Apakah pendapat kalian, jika sebuah sungai berada di depan pintu salah satu dari kalian, sehingga ia mandi darinya sehari lima kali; apakah akan tersisa kotoran pada badannya?” Para sahabat menyahut, “Tidak sedikit pun kotoran tersisa pada badannya.” Nabi melanjutkan, “Demikianlah seperti shalat lima waktu, dengannya Allah menghapus kesalahan-kesalahan.” [HR. Muslim]

3. Memperhatikan Perkembangan Kecerdasan Emosi

            Emosi merupakan karunia Allah SWT yang mempengaruhi manusia dalam perilakunya. Pendidikan karakter yang baik hendaknya memperhatikan pendidikan emosi, yakni bagaimana melatih emosi anak agar dapat berperilaku baik. Kemampuan kognitif tanpa didukung dengan kecerdasan emosi menyebabkan manusia bertindak diluar nilai-nilai akhlaq dan rasional. Rasulullah SAW mencontohkan pembangunan kecerdasan emosi saat seorang pemuda datang meminta ijin berzina. Beliau memberikan pertanyaan dan penjelasan yang menyentuh faktor emosinya, menuntunnya pada pemahaman bahwa apa yang dilakukannya akan menyakiti orang lain.

4. Praktik Melalui Keteladanan dan Pembiasaan

            Manusia merupakan peniru ulung. Tidak mengherankan jika pendidikan karakter yang efektif selalu didasarkan pada keteladanan dan pembiasaan. Dalam mendidik karakter umat Islam, Rasulullah menempatkan dirinya sebagai suri tauladan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-ahzab ayat 21: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.

5. Memperhatikan Pemenuhan Kebutuhan Hidup

            Orang yang berkecukupan memiliki kecenderungan yang lebih kecil untuk melakukan perbuatan yang tercela. Oleh karena itu, Islam memerintahkan negara untuk menjamin kebutuhan pokok masyarakat. Rasulullah Muhammad Saw bersabda: “Barangsiapa mati meninggalkan harta, maka itu hak ahli warisnya. Dan barangsiapa mati meninggalkan keluarga yang memerlukan santunan, maka akulah penanggungnya.” (HR. Muslim).  Dengan adanya jaminan atas kebutuhan dasar hidup, ummat dapat lebih terkondisikan untuk melakukan perilaku akhlaqul karimah.

6. Menempatkan Nilai Sesuai Prioritas

Kurang efektifnya pendidikan karakter sering disebabkan oleh perbedaan prioritas dalam memandang nilai. Dalam Islam, prioritas perbuatan dibagi menjadi wajib,sunnah, mubah, makruh, dan haram. Penilaian moralitas, sama halnya dengan perkara lain, juga didasarkan pada pembagian prioritas tersebut. Oleh karena itu, penting bagi pendidik untuk mengetahui kedudukan tiap-tiap perbuatan sebelum mengajarkannya kepada murid-murid.

Demikian enam prinsip pendidikan karakter. Prinsip-prinsip tersebut perlu  dipenuhi untuk menciptakan pendidikan karakter yang ideal dan sukses. (Ed. http://js.ugm.ac.id/artikel/js-media/buletin-shalahuddin.html)