Senin, 15 April 2013

#13 Pojok Hadits Malu Sebagian dari Iman



"Dari Salim bin Abdullah, dari ayahnya, ia berkata,
"Rasulullah SAW lewat di hadapan seorang Ansar yang sedang mencela saudaranya karena saudaranya pemalu. Maka Rasulullah SAW bersabda, 'Biarkan dia! Sesungguhnya malu itu sebagian dari iman."
(Bukhari-Muslim)

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. : Nabi Saw. Pernah bersabda ;
“Iman meliputi lebih dari enam puluh cabang atau bagian. Dan Al haya’ (rasa malu) adalah sebuah cabang dari iman.”

Kandungan Hadits:
Diantara pelajaran hadits yang bisa kita ambil dari hadits di atas adalah sebagai berikut:
1. Kaum muslimin hendaknya selalu memiliki semangat untuk menasehati saudaranya, mengingatkannya dengan penuh kasih sayang, dan tidak berdiam diri dari kesalahan;
2. Salah satu sifat Rasulullah adalah meluruskan ketika ada kekeliruan yang beliau ketahui, dan membetulkan kesalahan yang beliau dapati. Sehingga ketika Rasulullah diam terhadap sesuatu yang diketahui beliau, maka itu berarti taqrir (persetujuan) dari beliau;
3. Hendaklah seorang muslim memiliki rasa malu dan menjaga sifat itu tetap ada pada dirinya;
4. Malu adalah sebagian dari iman.

^_^
Semangat Karena Allah... :)

                                           #KaReNa KiTa KeLuArGa

Jumat, 12 April 2013

Marahalah Dakwah



Marhalah dakwah terdiri dari tabligh, ta’lim, takwin, dan tanfidz. Pada setiap tahapan ini terdapat amalud dakwah (aktivitas dakwah) dan ahdafud dakwah (tujuan dakwah). Pada marhalah tabligh (penyampaian umum) dan ta’lim (pengajaran) aktivitas dakwahnya adalah merubah dari kebodohan kepada ma’rifah (pengenalan) sedangkan tujuannya adalah menyampaikan ilmu dan memperbaiki ilmu. Marhalah takwin mempunyai aktivitas merubah ma’rifah kepada fikrah dan merubah fikrah kepada harakah, sedangkan tujuan adalah memperbaiki fikrah dan melatih amal. Pada marhalah tandzim, aktivitas dakwahnya adalah merubah harakah kepada hasil sedangkan tujuannya adalah menyatukan shaf, mengkoordinasikan amal dan pengawasan kegiatan. Pada marhalah tanfidz aktivitas dakwah adalah merubah hasil kepada tujuan (mardhatillah) adapun tujuannya adalah mobilisasi amal.

Marhalah tabligh dan ta’lim

Amal dakwah pada marhalah tabligh dan ta’lim adalah merubah jahalah (jahiliyah/bodoh) kepada ma’rifah. Marhalah ini adalah marhalah yang terbuka dengan penyampaian terbuka dan bahan yang sifatnya umum. Mereka yang hadir dalam marhalah ini adalah mereka yang berada pada level umum. Contoh tabligh adalah aktivitas dakwah di masjid (ceramah, khutbah, tazkirah), di kampus (seminar, kuliah, daurah) sedangkan ta’lim adalah marhalah setelah tabligh. Mereka yang berminat dengan dakwah dan Islam diajak kepada marhalah ta’lim. Bentuk pengajian umum dapat dikatakan marhalah ta’lim dimana kita mendapatkan ilmu melalui pengajaran yang dijadwal dan terlaksana secara tertib. Usaha-usaha dakwah tabligh dan ta’lim ini dengan sifat yang umum, peserta umum, dan tujuan umum, maka aktivitas ini bersifat merubah ketidaktahuan kepada pengetahuan (ma’rifah). Di dalam menjalankan amal dakwah demikian banyak aktivitas yang dilakukan seperti media, brosur, kaset, video, games, training, rihlah, dan sebagainya.

Seiring dengan amal dakwah yang dilakukan di marhalah ini maka tujuan dan dakwahnya adalah memberi ilmu dan memperbaiki ilmu. Bagi peserta yang tidak mempunyai ilmu maka dengan keikutsertaannya di dalam marhalah tabligh dan ta’lim ini akan menambah ilmu sedangkan bagi yang sudah berilmu akan mendapatkan perbaikan ilmunya atau menambah ilmu. Diskusi dan pembahasan adalah bagian dari aktivitas marhalah ini sehingga mencapai kebutuhan akal atau kognitif individu seperti ilmu.

Marhalah takwin

Pribadi yang sudah menyadari pentingnya ilmu sehingga dirinya selalu hadir dalam pengajian yang terus menerus dan tertib disamping juga mulai tumbuh semangat beramal pada dirinya, maka mereka ditingkatkan kepada marhalah takwin.

Marhalah takwin dimulai dengan merubah ma’rifah yang telah dicapai pada marhalah sebelumnya kepada fikrah. Ma’rifah hanya mengenal saja tetapi belum mempunyai kesadaran dan pemahaman yang baik. Kesadaran dan pemahaman yang dapat membentuk amal adalah fikrah. Banyak muslim yang mempunyai ilmu tetapi tidak ada fikrah sehingga amal dan usahanya tidak jelas dan tidak teratur, begitupun dengan sikap dan tingkah lakunya terkadang menyimpang, ia pun mudah terpengaruh oleh ghazwul fikri sehingga muncul beberapa pribadi yang tidak komitmen dan tidak konsisten. Usaha merubah ma’rifah kepada fikrah dilakukan dengan membedah realitas yang berlaku dan merujuk kepada nilai Islam dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Aktivitas berikutnya adalah merubah fikrah kepada harakah. Fikrah tidak cukup dimiliki seseorang apabila tidak diamalkan dan diwujudkan dalam harakah. Fikrah harus dibuktikan di dalam amalnya. Merubah fikrah kepada harakah adalah melatih peserta ke dalam amal (pribadi) dan membimbingnya untuk merasakan amal harakah yang dilakukan secara terpadu bersama-sama atau berkelompok atau berorganisasi. Jadi selain diberi peluang kepada peserta untuk beramal juga diberi latihan-latihan yang dapat merasakan realitas dan aplikasi fikrah yang sebenarnya dalam harakah. Misalnya kita hanya memahami bahwa dakwah itu wajib dan orang yang berdakwah maka dia akan dibantu oleh Allah, hanya dengan dakwah Islam bisa tegak. Fikrah demikian perlu dirasakan dengan amal di dalam harakah. Latihan yang diberikan dan juga peluang yang disediakan akan mengarahkan peserta kepada harakah dengan kaidah-kaidah yang telah dicontohkan Nabi SAW seperti pelaksanaan tarbiyah para sahabat di rumah Arqom bin Abi Arqom.

#KaReNa KiTa KeLuArGa

Kamis, 11 April 2013

Jangan Menjadi Pribadi Yang Manja



Seorang tukang kebun mencoba mengadakan penelitian sederhana. Ia menanam 2 tanaman yang sama pada lahan yang sama. 
Yang membedakan hanya bagaimana cara dia merawat tanaman tsb. Tanaman yang pertama disirami secara rutin tiap pagi sore, sedangkan tanaman yang kedua disirami 2 hari sekali. Ketika tanaman itu bertumbuh cukup besar, tiba waktunya untuk menguji kekuatan akar tsb. Perbedaannya cukup mencolok; Dibutuhkan waktu kurang dari 2 menit untuk mencabut akar dari tanaman yang pertama. Untuk tanaman yang kedua, dibutuhkan waktu lebih lama yaitu empat menit untuk bisa mencabutnya!
Mengapa hal itu bisa terjadi?

Tanaman yang pertama cukup dimanjakan dengan air yang ia dapat dengan mudah, sehingga akarnya tidak berusaha mencari ke tanah yang lebih dalam. Sedang tanaman yang kedua karena mendapat suplai air yang lebih sedikit, maka mau tidak mau akarnya mencari ke sumber air, sehingga di dapatinya akarnya jauh lebih kuat karena masuk lebih dalam ke tanah.

Mari kita renungkan:

Cara Allah mendidik kita tak jauh beda dengan ilustrasi tsb. Bayangkan saja jika Allah memanjakan kita dengan mengabulkan semua doa yang kita minta atau tidak pernah mengijinkan penderitaan dan masalah hidup.  Tentu ini akan membuat kita jadi orang yang manja. Tak hanya itu, kita akan menjadi orang yang cengeng. Akibatnya akar iman kita tidak kuat dan ketika permasalahan terjadi, dengan mudahnya kehidupan kita tumbang!

Allah  sangat mengasihi kita, itu sebabnya DIA selalu mendewasakan dan melatih akar iman kita. Mengijinkan penderitaan, masalah, tekanan hidup atau keadaan yang tidak menyenangkan, dengan harapan bahwa akar iman kita terus mencari "Sumber" yang sejati. Apakah Anda memilih untuk menjadi orang yang manja dengan akar yang rapuh? atau menjadi orang yang di dewasa kan oleh Allah ?

semoga menjadi pribadi yang lebih baik lagi ^___^



Minggu, 07 April 2013

"Mengapa harus Memilih untuk TERBUKA sedangkan yang TERTUTP jauh lebih baik"



Jilbabku, Kebanggaanku

Mari sejenak kita renungkan jawaban atas pertanyaan diatas. Jawaban anti dan muslimah lain mungkin bervariasi, ditentukan oleh niat yang terselip dalam hati saat mengenakan kain penutup aurat itu. Cukuplah sudah kita bergulat dengan pembahasan tentang hukum memakai jilbab. Pembahasan beserta kriterianya sudah termaktub dengan jelas dalam lembaran Al Qur'anul Kariim. Jilbab itu pilihan. Ya, pilihan untuk semakin mendekatkan diri dan meraih ridho-Nya.

Jilbab Identitas Muslimah

Allah SWT berfirman: “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab: 59)
Sejak awal, jilbab merupakan identitas yang membedakan muslimah dari golongan lain. Tafsir dari As Sudi rahimahullah menerangkan bahwa, “Dahulu orang-orang fasik di Madinah biasa keluar di waktu malam ketika malam begitu gelap di jalan-jalan Madinah. Mereka ingin menghadang para wanita. Dahulu orang-orang miskin dari penduduk Madinah mengalami kesusahan. Jika malam tiba para wanita (yang susah tadi) keluar ke jalan-jalan untuk memenuhi hajat mereka. Para orang fasik sangat ingin menggoda para wanita tadi. Ketika mereka melihat para wanita yang mengenakan jilbab, mereka katakan, “Ini adalah wanita merdeka. Jangan sampai menggagunya.” Namun ketika mereka melihat para wanita yang tidak berjilbab, mereka katakan, “Ini adalah budak wanita. Mari kita menghadangnya ”.
Sebagai identitas, kita dapat membedakan apakah seorang wanita itu muslimah atau bukan. Bahkan, apakah wanita tersebut berakhlak baik atau tidak juga dapat dilihat dari jilbabnya. Menariknya, hal ini juga dibenarkan oleh umat muslim dan tokoh agama lain. Rowan Williams, seorang mantan Uskup Canterburry, memberikan komentar yang dikutip oleh onislam.net (3/4/12) "Jilbab itu merupakan bentuk penegasan identitas seseorang akan keyakinan yang dianut,".
Jika orang non-muslim pun memahami peran jilbab sebagai identitas muslimah, ironis jika banyak muslimah yang tidak bangga akan jilbabnya. Apakah model pakaian terbaru, gaya rambut termodis dan keinginan untuk tampil menarik lebih mulia dari kenikmatan di akhirat kelak?
Referensi: 
Tafsir Al Qur’an Al ’Azhim
http://muslim.or.id/manhaj/kata-jil-jilbab-bukan-kewajiban-namun-pilihan-2.html, diakses 11 Februari 2013 
(ed. js.ugm.ac.id)

Sabtu, 06 April 2013

#3 Gerakan 5000 untuk Mushallah

Assalamu'alaikum....
Semoga Baik kabar dari saudara dan saudari ku yang beriman. Kita dari Pos UKMI Peduli Ummat (PUPU) dan Panitia Penggalangan Infaq MUshallah MIPA menggelar (Penggalangan Infaq Renovasi Mushallah) PIRM 2013.. bagi teman- teman, alumni, masyarakat dan siapa saja yang mau memiliki jalan kebaikan dalam menempuh kehidupan Alam barzah da 3 jenis pahala yang tidak pernah berhenti walau kita sudah di alam ke empat tu... Shadaqah Jarriyah.. ayo menabung untuk akhirat... jangan ditahan- tahan :)
Infaq/ sedeqah kamu bisa :

1. Diantar langsung ke Sekretariat Pos UKMI Peduli Ummat (PUPU)
              Mushallah FMIPA USU, Jl. Bioteknologi no. 1 Kampus FMIPA USU
2. Atau bisa juga dikirim transfer via Bank :
              0222341167 a.n. ARDIANSYAH

Contact: Ardiansyah        085762402421

*Bila sudah ditransfer mohon segera konfirm ya .... :)

"Dari Kita, Oleh kita, Untuk kita, Bagi Ummat"
#KaReNa KiTa KeLuArGa