Oleh: Tim Kajian Manhaj Tarbiyah
Penjelasan Skema
Beberapa Keutamaan Dakwah:
1. Dakwah menjadi utama karena ia adalah muhimmatur rusul (tugas
para nabi dan rasul).
2. Dakwah menjadi utama karena ia adalah ahsanul a’mal
(sebaik-baik amal).
3. Dakwah menjadi utama karena dengan berdakwah seorang muslim
meraih pahala yang teramat besar (al-hushul ‘alal ajri al-azhim).
4. Dakwah menjadi utama karena dapat menyelamatkan da’i dari azab
Allah swt dan pertanggungjawaban di akhirat.
5. Dakwah menjadi utama karena ia adalah jalan menuju khairu ummah
(terbentuknya umat yang terbaik).
Dengan demikian berarti seorang da’i sedang menjalani kehidupan
rabbaniyyah (al-hayah ar-rabbaniyyah) dan kehidupan yang penuh keberkahan
(a-hayah al-mubarakah).
NARASI
dakwatuna.com - Dakwah adalah aktivitas menyeru manusia kepada
Allah swt dengan hikmah dan pelajaran yang baik dengan harapan agar objek
dakwah (mad’u) yang kita dakwahi beriman kepada Allah swt dan mengingkari
thagut (semua yang di abdi selain Allah) sehingga mereka keluar dari kegelapan
jahiliyah menuju cahaya Islam.
Jika kita melihat ayat-ayat Al-Quran maupun hadits-hadits
Rasulullah saw, kita akan banyak menemukan fadhail (keutamaan) dakwah yang luar
biasa. Dengan mengetahui, memahami, dan menghayati keutamaan dakwah ini seorang
muslim akan termotivasi secara kuat untuk melakukan dakwah dan bergabung
bersama kafilah dakwah di manapun ia berada.
Mengetahui keutamaan dakwah termasuk faktor terpenting yang
mempengaruhi konsistensi seorang muslim dalam berdakwah dan menjaga semangat
dakwah, karena keyakinan terhadap keutamaan dakwah dapat menjadikannya merasa
ringan menghadapi beban dan rintangan dakwah betapapun beratnya.
Beberapa keutamaan dakwah yang dapat kita sebutkan dalam pokok
bahasan ini adalah:
1. Dakwah adalah Muhimmatur Rusul (Tugas Utama Para Rasul
alaihimussalam)
Para rasul alaihimussalam adalah orang yang diutus oleh Allah swt
untuk melakukan tugas utama mereka yakni berdakwah kepada Allah. Keutamaan
dakwah terletak pada disandarkannya kerja dakwah ini kepada manusia yang paling
utama dan mulia yakni Rasulullah saw dan saudara-saudara beliau para nabi
& rasul alaihimussalam.
Katakanlah (Hai Muhammad): “Inilah jalanku: aku dan orang-orang
yang mengikutiku berdakwah (mengajak kamu) kepada Allah dengan hujah yang
nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.
(Yusuf (12): 108).
Ayat di atas menjelaskan jalan Rasulullah saw dan para pengikut
beliau yakni jalan dakwah. Maka barangsiapa mengaku menjadi pengikut beliau
saw, ia harus terlibat dalam dakwah sesuai kemampuannya masing-masing.
Tentang Nabi Nuh as, Allah mengisahkan kesibukan beliau yang tak
kenal henti dalam menjalankan tugas berdakwah siang dan malam:
Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah mendakwahi
(menyeru) kaumku malam dan siang. (Nuh (71): 5).
Tentang Nabi Ibrahim as, Allah mengisahkan dakwah yang beliau
lakukan kepada ayah dan umatnya:
69. dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim.
70. ketika ia berkata kepada bapaknya dan kaumnya: “Apakah yang
kamu sembah?”
71. mereka menjawab: “Kami menyembah berhala-berhala dan kami
senantiasa tekun menyembahnya”.
72. berkata Ibrahim: “Apakah berhala-berhala itu mendengar (doa)mu
sewaktu kamu berdoa (kepadanya)?,
73. atau (dapatkah) mereka memberi manfaat kepadamu atau memberi
mudarat?”
74. mereka menjawab: “(Bukan karena itu) sebenarnya kami mendapati
nenek moyang kami berbuat demikian”.
75. Ibrahim berkata: “Maka apakah kamu telah memperhatikan apa
yang selalu kamu sembah,
76. kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu?,
77. karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku,
kecuali Tuhan semesta alam,
78. (Yaitu Tuhan) yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki
aku,
79. dan Tuhanku, yang Dia memberi makan dan minum kepadaku,
80. dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku,
81. dan yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku
(kembali),
82. dan yang amat kuinginkan akan mengampuni kesalahanku pada hari
kiamat”. (Asy-Syuara (26): 69-82).
Tentang Nabi Musa as, Allah swt mengisahkan dakwah beliau dalam
banyak ayat-ayat Al-Quran, di antaranya:
Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa mukjizat-
mukjizat Kami kepada Fir’aun dan pemuka-pemuka kaumnya. Maka Musa berkata:
“Sesungguhnya aku adalah utusan dari Tuhan seru sekalian alam”. Maka tatkala
dia datang kepada mereka dengan membawa mukjizat- mukjizat Kami dengan serta
merta mereka menertawakannya. (Az-Zukhruf (43): 46-47).
Tentang Nabi Isa as, Allah swt mengisahkan dakwah beliau dalam
firman-Nya:
Dan tatkala Isa datang membawa keterangan dia berkata:
“Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmah dan untuk menjelaskan
kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, maka bertaqwalah
kepada Allah dan taatlah (kepada) ku”. Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan
Tuhan kamu maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus. (Az-Zukhruf (43):
63-64).
Pintu kenabian dan kerasulan memang sudah tertutup selama-lamanya,
namun kita masih dapat mewarisi pekerjaan dan tugas mulia mereka, sehingga kita
berharap semoga Allah swt berkenan memuliakan kita.
2. Dakwah adalah Ahsanul A’mal (Amal yang Terbaik)
Dakwah adalah amal yang terbaik, karena dakwah memelihara amal Islami
di dalam pribadi dan masyarakat. Membangun potensi dan memelihara amal shalih
adalah amal dakwah, sehingga dakwah merupakan aktivitas dan amal yang mempunyai
peranan penting di dalam menegakkan Islam. Tanpa dakwah ini maka amal shalih
tidak akan berlangsung.
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang
berdakwah (menyeru) kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata:
“Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushilat (41):
33).
Ibnu Jarir Ath-Thabari rahimahullah mengatakan dalam tafsirnya:
Allah swt menyeru manusia: “Wahai manusia, siapakah yang lebih baik
perkataannya selain orang yang mengatakan Rabb kami adalah Allah, kemudian
istiqamah dengan keimanan itu, berhenti pada perintah dan larangan-Nya, dan berdakwah
(mengajak) hamba-hamba Allah untuk mengatakan apa yang ia katakan dan
mengerjakan apa yang ia lakukan.” (Tafsir Ath-Thabari, Jami’ul Bayan Fi Ta’wil
Al-Quran, 21/468).
Bagaimana tidak akan menjadi ucapan dan pekerjaan yang terbaik?
Sementara dakwah adalah pekerjaan makhluk terbaik yakni para nabi dan rasul
alaihimussalam.
Sayyid Quthb rahimahullah berkata dalam Fi Zhilal Al-Quran:
“Sesungguhnya kalimat dakwah adalah kalimat terbaik yang diucapkan di bumi ini,
ia naik ke langit di depan kalimat-kalimat baik lainnya. Akan tetapi ia harus
disertai dengan amal shalih yang membenarkannya, dan disertai penyerahan diri
kepada Allah sehingga tidak ada penonjolan diri di dalamnya. Dengan demikian
jadilah dakwah ini murni untuk Allah, tidak ada kepentingan bagi seorang da’i
kecuali menyampaikan. Setelah itu tidak pantas kalimat seorang da’i kita sikapi
dengan berpaling, adab yang buruk, atau pengingkaran. Karena seorang da’i
datang dan maju membawa kebaikan, sehingga ia berada dalam kedudukan yang amat
tinggi…” (Fi Zhilal Al-Quran 6/295).
3. Dakwah memiliki keutamaan yang besar karena para da’i akan
memperoleh balasan yang besar dan berlipat ganda (al-hushulu ‘ala al-ajri
al-‘azhim).
قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم لِعَلِيٍّ: ((فَوَاللَّهِ
لَأَنْ يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ
النَّعَمِ)) (رواه البخاري ومسلم وأحمد)
Sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah,
sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu maka itu lebih
bagimu dari unta merah.” (Bukhari, Muslim & Ahmad).
Ibnu Hajar Al-‘Asqalani ketika menjelaskan hadits ini mengatakan
bahwa: “Unta merah adalah kendaraan yang sangat dibanggakan oleh orang Arab
saat itu.”
Hadits ini menunjukkan bahwa usaha seorang da’i menyampaikan
hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah
swt, lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan
mewah miliknya.
Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan:
« يَا عَلِيُّ، لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ عَلَى يَدَيْكَ رَجُلاً خَيْرٌ
لَكَ مِمَّا طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ » (رواه الحاكم في المستدرك)
“Wahai Ali, sesungguhnya Allah swt menunjuki seseorang dengan
usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari
terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam
Al-Mustadrak).
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ((إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ
وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى
الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ)) (رواه الترمذي عن أبي
أمامة الباهلي).
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah swt memberi banyak
kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di
lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan
kepada orang lain.” (HR. Tirmidzi dari Abu Umamah Al-Bahili).
Berapakah jumlah malaikat, semut dan ikan yang ada di dunia ini?
Bayangkan betapa besar kebaikan yang diperoleh oleh seorang da’i dengan doa
mereka semua!
Imam Tirmidzi setelah menyebutkan hadits tersebut juga mengutip
ucapan Fudhail bin ‘Iyadh yang mengatakan:
عَالِمٌ عَامِلٌ مُعَلِّمٌ يُدْعَى كَبِيرًا فِي مَلَكُوتِ
السَّمَوَاتِ
“Seorang yang berilmu, beramal dan mengajarkan (ilmunya) akan
dipanggil sebagai orang besar (mulia) di kerajaan langit.”
Keagungan balasan bagi orang yang berdakwah tidak hanya pada
besarnya balasan untuknya tetapi juga karena terus menerus nya ganjaran itu
mengalir kepadanya meskipun ia telah wafat.
Perhatikan sabda Rasulullah saw berikut ini:
((مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا
بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ
أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّـئَةً فَعُمِلَ
بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ
مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ)) (رواه مسلم عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي
الله عنه).
“Siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu
perbuatan itu setelahnya dicontoh (orang lain), maka akan dicatat untuknya pahala
seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikit pun pahala
mereka yang mencontoh nya. Dan barangsiapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu
perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti
dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya. (HR. Muslim
dari Jarir bin Abdillah ra).
4. Dakwah dapat menyelamatkan kita dari azab Allah swt (An-Najatu
minal ‘Azab)
Dakwah yang dilakukan oleh seorang da’i akan membawa manfaat bagi
dirinya sebelum manfaat itu dirasakan oleh orang lain yang menjadi objek
dakwahnya (mad’u). Manfaat itu antara lain adalah terlepasnya tanggung jawabnya
di hadapan Allah swt sehingga ia terhindar dari adzab Allah.
Tersebutlah sebuah daerah yang bernama “Aylah” atau “Eliah” sebuah
perkampungan Bani Israil. Penduduknya diperintahkan Allah untuk menghormati
hari Jumat dan menjadikannya hari besar, namun mereka tidak bersedia dan lebih
menyukai hari Sabtu. Sebagai hukumannya Allah swt melarang mereka untuk mencari
dan memakan ikan di hari Sabtu, dan Allah membuat ikan-ikan tidak muncul
kecuali di hari Sabtu. Sekelompok orang kemudian melanggar larangan ini dan
membuat perangkap ikan sehingga ikan-ikan di hari Sabtu masuk ke dalam
perangkap lalu mereka mengambilnya di hari ahad dan memakannya. Sementara
orang-orang yang tidak melanggar larangan Allah terbagi menjadi dua kelompok
yaitu mereka yang mencegah kemunkaran dan mereka yang diam saja.
Terjadilah dialog antara orang-orang yang diam saja dengan mereka
yang berdakwah mengingatkan saudara-saudaranya yang melanggar larangan Allah.
Dialog ini disebutkan dalam Al-Quran:
Dan tanyakanlah kepada Bani Israil tentang negeri yang terletak di
dekat laut ketika mereka melanggar aturan pada hari Sabtu , di waktu datang
kepada mereka ikan-ikan (yang berada di sekitar) mereka terapung-apung di
permukaan air, dan di hari-hari yang bukan Sabtu, ikan-ikan itu tidak datang
kepada mereka. Demikianlah Kami mencoba mereka disebabkan mereka berlaku fasik.
Dan (ingatlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata: “Mengapa kamu
menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan
azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “Agar kami mempunyai alasan (pelepas
tanggung jawab) kepada Tuhanmu , dan supaya mereka bertakwa. Maka tatkala
mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan
orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada
orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat
fasik. (Al-A’raf (7): 163-165).
Perhatikan jawaban orang-orang yang berdakwah ketika ditanya
mengapa mereka menasehati orang-orang yang melanggar perintah Allah:
1. مَعْذِرَةً إِلَى رَبِّكُمْ
2. وَلَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
1. Kami berdakwah agar menjadi argumentasi & penyelamat
kami dihadapan Allah swt.
2. Mudah-mudahan mereka bertaqwa.
Perhatikan pula bahwa yang secara tegas diselamatkan oleh Allah
dari adzab-Nya adalah orang-orang yang melarang perbuatan maksiat.
Dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar adalah kontrol sosial yang
harus dilakukan oleh kaum muslimin agar kehidupan ini selalu didominasi oleh
kebaikan. Kebatilan yang mendominasi kehidupan akan menyebabkan turunnya
teguran atau adzab dari Allah swt. Rasulullah saw bersabda:
((مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْوَاقِعِ فِيهَا
كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا
وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا
مِنْ الْمَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ فَقَالُوا لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي
نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا
أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا
جَمِيعًا)) (رواه البخاري)
Perumpamaan orang yang tegak di atas hukum-hukum Allah dengan
orang yang melanggarnya seperti kaum yang menempati posisinya di atas bahtera,
ada sebagian yang mendapatkan tempat di atas, dan ada sebagian yang mendapat
tempat di bawah. Mereka yang berada di bawah jika akan mengambil air harus
melewati orang yang berada di atas, lalu mereka berkata: “Jika kita melubangi
bagian bawah milik kita dan tidak mengganggu mereka..” Kalau mereka membiarkan
keinginan orang yang akan melubangi, mereka semua celaka, dan jika mereka
menahan tangan mereka maka selamatlah semuanya. (HR. Bukhari).
عَنْ حُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ
بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ
يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَابًا مِنْهُ ثُمَّ تَدْعُونَهُ فَلَا يُسْتَجَابُ
لَكُمْ)) (رواه الترمذي وقَالَ: هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ).
Dari Hudzaifah bin Yaman ra dari Nabi Muhammad Saw beliau
bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalian harus melakukan
amar ma’ruf dan nahi munkar, atau Allah akan menurunkan hukuman dari-Nya
kemudian kalian berdoa kepada-Nya dan Dia tidak mengabulkan doa kalian.” (HR
Tirmidzi, beliau berkata: hadits ini hasan).
5. Dakwah adalah Jalan Menuju Khairu Ummah
Rasulullah saw berhasil mengubah masyarakat jahiliyah menjadi umat
terbaik sepanjang zaman dengan dakwah beliau. Dakwah secara umum dan pembinaan
kader secara khusus adalah jalan satu-satunya menuju terbentuknya khairu ummah
yang kita idam-idamkan. Rasulullah saw melakukan tarbiyah mencetak kader-kader
dakwah di kalangan para sahabat beliau di rumah Arqam bin Abil Arqam ra, beliau
juga mengutus Mush’ab bin Umair ra ke Madinah untuk membentuk basis dan cikal
bakal masyarakat terbaik di Madinah (Anshar).
Jalan yang ditempuh oleh Rasulullah saw ini adalah juga jalan yang
harus kita tempuh untuk mengembalikan kembali kejayaan umat. Imam Malik bin
Anas ra berkata:
لاَ يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ الأُمَّةِ إِلاَّ بِمَا صَلُحَ بِهِ
أَوَّلُهَا
Akhir umat ini tidak menjadi baik kecuali menggunakan cara yang
digunakan untuk memperbaiki generasi awalnya. (Nashiruddin Al-AlBani, Fiqhul
Waqi’ hlm 22).
Umat Islam harus memainkan peran dakwah & amar ma’ruf nahi
munkar dalam semua keadaannya, baik ketika memperjuangkan terbentuknya khairu
ummah maupun ketika cita-cita khairu ummah itu telah terwujud. Allah swt
berfirman:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah. (Ali Imran (3): 110).
Al-Hayatu Ar-Rabbaniyyah
Dengan semua keutamaan dakwah di atas, berarti seorang da’i dengan
dakwahnya sedang menjalani hidupnya dengan kehidupan rabbaniyyah yakni
kehidupan yang selalu berorientasi kepada Allah swt dan kehidupan yang selalu
diisi dengan belajar Al-Quran yang menjadi sumber kebaikan serta mengajarkannya
kepada orang lain.
Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al
Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu
menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (dia
berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu
mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Ali Imran (3):
79).
Rasulullah saw diperintahkan oleh Allah swt untuk mengajak umatnya
agar menjadi orang-orang yang Rabbani yakni mereka yang selalu belajar dan
mengajarkan Al-Quran sehingga hidup mereka menjadi rabbani pula. Dakwah adalah
aktivitas belajar dan mengajarkan Al-Quran baik dalam membacanya, memahaminya,
mengamalkannya, memperjuangkan tegaknya hukum-hukumnya, dan konsisten dalam
melakukan itu semua.
Kehidupan rabbaniyyah adalah kehidupan seorang da’i yang selalu
mengorientasikan semua aktivitasnya kepada Allah swt Rabbnya, di mana
kehidupan, kematian, ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah semuanya dipersembahkan
untuk Allah swt. Ibadah yang menjadi tujuan hidup semua manusia dilaksanakan
untuk mengagungkan Allah swt seagung-agungnya dan untuk menyatakan kehinaan dan
kelemahan kita di hadapan-Nya. Dakwah adalah salah satu bentuk pengagungan
kepada Allah yang paling utama, karena di dalamnya seorang da’i meninggikan
kalimat-Nya melalui lisannya, amalnya, dan ajakannya kepada orang lain. Di
dalam dakwah seorang da’i bersabar menghadapi berbagai ujian berat semata-mata
demi mengagungkan Allah swt. Semakin berat tantangan dan ujian dalam
mengagungkan Allah swt, semakin besar dan mulia bentuk pengagungan itu di sisi
Allah swt.
Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadatku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al-An’am (6): 162).
Al-Hayah Al-Mubarakah (Kehidupan yang Diberkahi)
Dengan selalu berdakwah di jalan Allah swt serang da’i telah
menjadikan hidupnya penuh keberkahan. Yang dimaksud dengan keberkahan adalah
kebaikan yang banyak dan melimpah di sisi Allah swt. Para Nabi alaihimussalam
adalah orang yang paling diberkahi dan kehidupannya adalah kehidupan penuh
keberkahan, perhatikan ucapan Nabi Isa as tentang dirinya:
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku
berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan)
zakat selama aku hidup. (Maryam (19): 31).
Penyebab utama kehidupan Nabi Isa dan para Nabi lainnya diberkahi
oleh Allah swt adalah pekerjaan mereka sebagai orang-orang yang dipilih oleh
Allah untuk mendakwahkan ajaran-Nya kepada manusia. Inilah yang dipahami oleh
Ibnul Qayyim – salah seorang ulama besar – ketika menjelaskan surat Maryam ayat
31 di atas. Beliau berkata:
فَإِنَّ بَرَكَةَ الرَّجُلِ:
• تَعْلِيْمُهُ لِلْخَيْرِ حَيْثُ حَلَّ،
• وَنُصْحُهُ لِكُلِّ مَنْ اِجْتَمَعَ بِهِ.
قَالَ تَعَالَى إِخْبَارًا عَنِ الْمَسِيْحِ: وجعلني مباركا أينما
كنت [مريم: ٣١] أَيْ:
1. مُعَلِّمًا لِلْخَيْرِ،
2. دَاعِيًا إِلَى اللهِ،
3. مُذَكِّرًا بِهِ،
4. مُرَغِّبًا فِيْ طَاعَتِهِ.
Keberkahan seseorang itu ada pada:
• pengajarannya terhadap segala macam kebajikan di mana pun ia
berada, dan
• Nasehat yang ia berikan kepada semua orang yang ijtima’
(berkumpul) dengannya.
Saat menceritakan tentang nabi Isa – ‘alaihissalam - Allah swt
berfirman:
“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku
berada”. (Q.S. Maryam: 31)
Nabi ‘Isa – ‘alaihissalam - menjadi manusia yang membawa berkah
adalah karena ia:
1. Menjadi guru kebajikan
2. Juru dakwah yang menyeru manusia kepada Allah – subhanahu wa
ta’ala -
3. Mengingatkan manusia tentang Allah – subhanahu wa ta’ala -
4. Mendorong dan memotivasi manusia untuk taat kepada Allah –
subhanahu wa ta’ala.
Demikian Ibnul Qayyim melihat keberkahan dalam hidup seseorang, di
mana kehidupan yang berkah itu - menurut beliau & sesuai arahan Al-Quran
– ditentukan oleh aktivitas memberi manfaat kepada orang lain melalui dakwah
dan kebaikan yang disebarkan demi meninggikan kalimat Allah swt.